Langsung ke konten utama

Sekjen KKP Antam Novambar Batal Hadiri Panggilan KPK




Sekjen KKP Antam Novambar Batal Hadiri Panggilan KPK



Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (Sekretaris Jenderal KKP) Antam Novambar tidak memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Antam meminta tim investigasi untuk menjadwalkan kembali pemeriksaan. Ecesi, Antam akan dipertanyakan tentang kasus yang diduga izin suap untuk mengekspor biji lobster atau goreng di KKP. Pemeriksaan Antam dilakukan untuk menyelesaikan investigasi kepada mantan Menteri CPE) Edhy Prabowo.


"Saksi Antam Novambar. Konfirmasi yang bersangkutan secara tertulis tidak dapat dihadiri karena sedang melaksanakan kegiatan kota yang dijadwalkan tinggi di luar," kata juru bicara KPK Ali Fikri dalam pernyataannya, Rabu (17/3/2021). Pemeriksaan Antam diduga selektif tentang kejang Rp. 52,3 miliar tunai dalam kasus ini.


Antam diduga menerima pesanan dari mantan Menteri KKP Edhy Prabowo untuk melakukan tatanan tertulis terkait penarikan jaminan bank (jaminan bank) dari eksportir ke kepala agen karantina ikan, kontrol kualitas, dan hasil perikanan (BKIPM).


Selanjutnya, Kepala BKIPM memerintahkan Kepala Kantor Besar Karantina Balai I Soekarno Hatta untuk menerima garansi bank. Bahkan, menurut ALI, aturan jaminan bank tidak pernah ada. "Aturan menyampaikan jaminan bank dari eksportir sebagai bentuk komitmen dari implementasi ekspor benih lobster yang jelas diduga tidak pernah ada," kata Ali.


Izin Ekspor Bribery


Dalam hal ini KPK Ensnered Edhy Prabowo dan enam tersangka lainnya. Mereka adalah Safri (SAF) sebagai staf Menteri KKP, SISWADI (SWD) sebagai administrator PT Aero Citra Cargo, Ainul Faqih (AF) sebagai staf Menteri Istri KKP, Andreau Personal Misanta (APM) sebagai staf Menteri KKP, Amiril Mukminin (AM) sebagai Menteri Kementerian SESPRI, dan Suharjito (SJT) sebagai Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP).


Edhy diduga menerima sejumlah uang dari Suharjito, Ketua Holding Company PT DUA PUTERA PERKASA (DPP). Perusahaan Suharjito telah mengirim benih lobster 10 kali menggunakan layanan PT Aero Citra Cargo (PT ACK).


Untuk mengekspor benih lobster hanya dapat melalui forwarder dari PT Aero Citra Cargo dengan biaya transportasi Rp. 1.800 / kepala. Perusahaan PT ACK dianggap sebagai satu-satunya ekspor ekspor benih lobster yang telah disepakati dan dapat diberkati dari Edhy.


Dalam menjalankan monopoli bisnis kargo, PT ACK menggunakan Logistik PT yang mudah rusak Indonesia (PLI) sebagai operator bidang persalinan lapangan di luar negeri. Calon eksportir kemudian diduga menyimpan sejumlah uang kepada akun perusahaan untuk diekspor.


Uang yang dikumpulkan diduga digunakan demi Edhy Prabowo dan istrinya, IIS Rosyita Dewi untuk menghabiskan barang-barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp. 750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, Tas Tas dan Louis Vuitton, dan pakaian tua tua.


Edhy diduga menerima Rp. 3,4 miliar melalui kartu ATM yang dipegang oleh staf istrinya. Selain itu, ia juga diduga menerima USD 100 ribu yang diduga terkait dengan suap. Total uang di akun untuk Bribery Edhy Prabowo mencapai Rp 9,8 miliar.

Komentar